23 Juni 2020

Perang Bintang Dompet Digital




Dompet digital (e-wallet) merupakan salah satu sistem atau metode pembayaran transaksi digital yang memiliki karakteristik praktis, mudah, cepat, dan aman. Dompet digital dibuat oleh perusahaan jasa sistem pembayaran yang tergabung dalam Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) dan harus terdaftar dan memperoleh ijin dari Bank Indonesia (BI). Dompet digital yang sudah dikenal luas di masyarakat dan memimpin pangsa pasar dompet digital di Indonesia antara lain OVO, GoPay, LinkAja, DANA, dan lain-lain. Masih minimnya transaksi nontunai (kartu debit, kartu kredit, dompet digital) di Indonesia yang hanya sekitar 10% dari perputaran uang beredar mendorong semakin banyak pelaku bisnis dompet digital bersaing ketat dalam menggaet konsumen baru sehingga menciptakan perang bintang dompet digital. 

Sama halnya dengan kartu debit dan kartu kredit, dompet digital tentu saja harus memiliki saldo uang agar bisa digunakan. Uang yang digunakan sesuai ketentuan Bank Indonesia (BI) adalah dalam mata uang Rupiah yang berlaku di wilayah Republik Indonesia. Menurut data BI jumlah perputaran uang beredar di Indonesia pada tahun 2019 mencapai IDR6.136 triliun. Sedangkan jumlah transaksi menggunakan dompet digital sudah mencapai sekitar IDR21 triliun. 

Dompet digital tidak terbatas penggunaannya pada sistem transportasi online namun juga pada sektor bisnis yang lain. Secara pemanfaatan, dompet digital memiliki banyak kesamaan dengan m-banking seperti bisa transfer uang, mengisi pulsa, membayar cicilan kredit, membayar iuran BPJS dan listrik, transaksi belanja barang, dan masih banyak lagi. Beberapa perusahaan atau merchant yang menggunakan sistem pembayaran dompet digital seperti Tokopedia, Grab, Gojek, Bukalapak, MyPertamina, dan masih banyak lagi. 

Menurut data dari BI, jumlah dompet digital yang terdaftar dan memperoleh ijin operasional dari BI mencapai 50 dompet digital. Dompet digital tersebut dibuat oleh perusahaan penyelenggara jasa sistem pembayaran yang tergabung dalam ASPI. Berikut ulasan tentang beberapa platform dompet digital yang banyak digunakan di Indonesia. 

OVO Payment 

OVO payment adalah salah satu dompet digital yang dikenal luas di masyarakat. OVO didirikan pada tahun 2017 oleh perusahaan bernama PT Visionet Internasional, yang mana salah satu pemegang saham mayoritas adalah Lippo Group milik salah satu konglomerat Indonesia Mochtar Riady. 

Kantor OVO yang berkedudukan di Jakarta ini memiliki dua jenis keanggotaan yaitu OVO Club dan OVO Premier. Khusus untuk perusahaan atau merchant yang ingin menggunakan OVO untuk sistem pembayaran transaksi di tokonya harus mendaftar melalui aplikasi OVO Merchant. 

Bagi konsumen yang ingin menggunakan sistem pembayaran digital ini harus mendownload aplikasinya melalui Google Play Store dan Apple Play Store di smartphone. Saat ini aplikasi OVO sudah didownload lebih dari 10 juta kali, dan aplikasi OVO Merchant sudah didownload lebih dari 500 ribu kali. 

Jumlah transaksi menggunakan OVO sudah mencapai 1 miliar transaksi. Belum ada data resmi dari BI, siapa yang memimpin pangsa pasar dompet digital di Indonesia. Namun, OVO dan GoPay menjadi pemimpin pangsa pasar dompet digital Indonesia dengan persentase 20% sampai 37% dari total nilai kapitalisasi transaksi IDR21 triliun. 

GoPay 

Go Pay adalah salah satu dompet digital yang sangat dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Aplikasi Go Pay yang merupakan sistem pembayaran besutan Gojek ini, sudah didownload lebih dari 50 juta kali. Gojek didirikan pada tahun 2010 oleh perusahaan bernama PT Aplikasi Karya Anak Bangsa. 

Saat ini sudah ada 20 layanan Gojek dan salah satunya adalah Go Pay. Gojek sudah memiliki 1 juta lebih driver. Khusus bagi konsumen yang ingin menggunakan sistem pembayaran dompet digital ini harus mengunduh aplikasi Gojek di Google Play Store dan Apple Play Store melalui smartphone Anda. 

Go Pay bersama OVO masih memimpin pangsa pasar dompet digital di Indonesia. Menurut data yang diolah dari berbagai sumber, Go Pay berhasil meraup sekitar 35% transaksi menggunakan dompet digital. Adapun transaksi menggunakan dompet digital mencapai sekitar IDR21 triliun. Jumlah ini akan semakin meningkat dari tahun ke tahun. 

DANA 

Aplikasi DANA merupakan salah satu dompet digital yang naik daun di Indonesia. Didirikan pada tahun 2018 oleh Eliza Sariatmadja melalui perusahaan PT Espay Debit Indonesia Koe. 

Pangsa pasar DANA untuk dompet digital bersaing ketat dengan LinkAja. Sama-sama didownload lebih dari 10 juta kali, DANA sudah memiliki ribuan merchant yang sudah bekerjasama, beberapa diantaranya Bluebird, Hokben, MRT, AlfaMidi, Bukalapak, KFC, dan masih banyak lagi. 

Pangsa pasar DANA pada industri dompet digital di Indonesia masih dibawah 10%. Jumlah ini kurang lebih sama dengan pangsa pasar yang dimiliki LinkAja. Agar bisa menggunakan dompet digital DANA, Anda harus mendownload terlebih dahulu di Google Play Store dan Apple Play Store melalui smartphone. 

LinkAja 

Awalnya LinkAja dibentuk dari aplikasi TCash milik Telkomsel pada tahun 2007. Didirikan oleh perusahaan PT Fintek Karya Nusantara pada tahun 2019. LinkAJA merupakan salah satu dompet digital yang mulai berkembang pesat penggunaannya di Indonesia. 

Dompet Digital LinkAja banyak digunakan dalam transaksi perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), salah satunya Pertamina. LinkAja sudah diunduh lebih dari 10 juta kali oleh konsumen. Pangsa pasar LinkAja juga sama dengan DANA yaitu dibawah 10%. Agar bisa menggunakan dompet digital LinkAja, Anda harus mendownload terlebih dahulu di Google Play Store dan Apple Play Store melalui smartphone.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon