Minggu, 14 Oktober 2018

Kekerasan Finansial dalam Rumah Tangga

Tags


Dalam sebuah rumah tangga sudah menjadi komitmen bersama antarpasangan untuk menciptakan kondisi keuangan rumah tangga yang sehat dan mapan.  Seorang suami apapun latar belakang keyakinan dan pendidikannya, harus bekerja dan berusaha memenuhi kebutuhan hidup rumah tangganya.  Begitu juga istri tanpa melihat latar belakang agamanya, bertugas untuk mengelola keuangan rumah tangga agar keuangan bisa tercatat rapi mulai dari kebutuhan sandang, sekolah, belanja, piknik, dan lainnya sesuai kesepakatan bersama pasangan.

Pernahkan Anda mengalami kekerasan finansial dalam rumah tangga?  Ya kekerasan finansial yang dimaksud di sini bukanlah kekerasan fisik, melainkan sebuah kondisi tekanan psikologis yang dialami pasangan akan kondisi keuangan rumah tangganya.  Misalnya, suami yang bekerja dan berusaha mencari penghasilan tetapi istri yang menghabiskan uang dengan belanja secara membabi buta tanpa pengelolaan keuangan yang matang.  Atau seorang istri yang seyogyanya berada di rumah harus bekerja membanting tulang memenuhi kebutuhan hidup rumah tangganya, sementara suami tidak bekerja (apapun alasannya, kecuali cacat tetap).  Hal-hal seperti itulah yang dianggap sebagai kekerasan finansial dalam rumah tangga.

Bagaimana caranya agar Anda dan pasangan tidak mengalami kekerasan finansial dalam rumah tangga?  Caranya ya tentu saja harus ada komitmen dan kesepakatan bersama antara suami dan istri tentang siapa melakukan apa, dan bagaimana cara untuk mencapai kondisi kebebasan finansial yang diinginkan bersama.

Setelah terjadi kesepakatan dan komitmen bersama apapun latar belakang agama dan pendidikannya, tentu perjalanan rumah tangga akan menemukan titik terang.  Suami senang penghasilan yang diperoleh dikelola dengan bijak oleh istri, begitu juga istri senang melihat suami bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup berdua.

Satu contoh kasus, kekerasan finansial dalam rumah tangga yang sering dijumpai yaitu kurang tanggung jawabnya suami untuk memenuhi kebutuhan hidup rumah tangga, akibatnya istri menjadi keluar dari tugas utamanya untuk berada di rumah menjaga anak, memasak, dan mengatur keuangan keluarga dengan bekerja di kantoran atau berbisnis.  Namun tidak semua istri yang bekerja di luar rumah meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang istri sekaligus ibu bagi anak-anaknya.  Besarnya kebutuhan rumah tangga tak mampu ditanggung sendiri oleh suami sehingga istri pun “terpaksa” membantu bekerja mencari penghasilan.


Apakah suami istri yang kerap mengalami kekerasan finansial dalam rumah tangganya merupakan ciri masyarakat di negara berkembang?  Sepenuhnya tidaklah benar adanya karena di negara maju pun kejadian tersebut sering terjadi.


EmoticonEmoticon