Selasa, 31 Juli 2018

Yuk Investasi Obligasi


Obligasi sudah lama dikenal di pasar modal, hanya saja popularitasnya masih kalah dibanding saham.  Emiten obligasi kebanyakan perusahaan milik negara.  Emiten adalah penerbit obligasi yang akan menerima  dana dari investor. Saat ini, perusahaan swasta mulai melirik sumber pembiayaan dari obligasi.

Obligasi adalah surat berharga berupa sertifikat yang berisi kontrak antara pemberi pinjaman (investor) dengan penerima pinjaman (emiten). Jadi surat obligasi adalah selembar kertas yang menyatakan bahwa pemilik kertas tersebut memberi pinjaman kepada perusahaan yang menerbitkan surat utang obligasi tersebut.

Bila Anda seorang karyawan, pengusaha, atau ibu rumah tangga yang memiliki dana, tidak ada salahnya mencoba menanamkan dana di obligasi, misalnya obligasi milik pemerintah.  Membeli obligasi tidak jauh berbeda dengan menabung di bank.  Bahkan memiliki obligasi sama persis dengan memiliki deposito berjangka.  Hanya saja, surat deposito berjangka tidak dapat diperjualbelikan, sedangkan surat utang obligasi bisa diperjualbelikan.  Penghasilan dari obligasi memiliki jumlah yang lebih tinggi dibanding penghasilan dari tabungan dan deposito. 


Obligasi dikenal memberi pendapatan tetap yaitu berupa bunga yang dibayarkan dengan jumlah tetap pada waktu yang telah ditentukan, misalnya setiap 3 bulan, 6 bulan, atau satu tahun sekali.  Obligasi juga mengenal penghasilan dari capital gain, yaitu selisih antara harga penjualan dengan harga pembelian.  Bunga merupakan penghasilan utama dari obligasi.  Pendapatan dari bunga ini tidak bisa dibatalkan oleh penerbit, bahkan dalam keadaan bangkrut pun.  Pemegang obligasi mendapat hak lebih dulu untuk dilunasi semua haknya, termasuk bunga.  Pada umumnya bunga obligasi lebih tinggi dari bunga tabungan atau deposito.  Namun tidak semua emiten menerbitkan obligasi dengan bunga lebih tinggi dari deposito.

Pemegang obligasi juga bisa memperoleh capital gain yaitu pada saat pemegang obligasi melakukan penjualan obligasi yang dimilikinya mendapat harga yang lebih tinggi dari harga ketika memperolehnya.  Capital gain obligasi juga bisa didapat jika pemegang obligasi saat melakukan pembelian mendapat diskon.  Sehingga pada saat jatuh tempo obligasi, pemegang obligasi akan mendapat pelunasan sebesar nilai pari (pokok).  Sebagai contoh, nona melinda mendapat tawaran obligasi seharga USD 19.500, jatuh tempo 4 tahun.  Padahal harga nominal obligasi USD 20.000.  Kalau nona Melinda bersedia membelinya, maka kelak dia akan mendapat pelunasan USD 20.000.  Nona Melinda mendapat capital gain USD 500.  Capital gain bisa datang kapan saja dengan catatan pemegang obligasi menjual obligasinya di atas harga pembelian obligasi.  Capital gain dari diskon diperoleh pada saat obligasi jatuh tempo.

Risiko dalam investasi obligasi berupa risiko peningkatan suku bunga bank.  Bila terjadi peningkatan suku bunga bank maka pemegang obligasi bisa mengalami kerugian.  Kerugian yang lain berupa pelunasan obligasi sebelum jatuh tempo.  Penting untuk diperhatikan para investor bahwa sebelum membeli obligasi harus mengetahui credit rating obligasi tersebut.  Credit rating obligasi bisa diketahui dari bantuan jasa lembaga pemeringkat efek.  Skala credit rating ini menunjukan seberapa aman suatu obligasi bagi investor terutama dalam hal pembayaran bunga dan pokok pinjaman.  Oleh karena itu, carilah obligasi yang memiliki credit rating bagus, misalnya AAA dan BBB.


EmoticonEmoticon